Grateful

/* A copy from my other notes with a bit modification*/

March 28, 2010 ,
Hari ini sy mendapat pelajaran dari seorang kawan zaman SMA dan kuliah dulu. Beberapa menit seblm sy tulis note ini, kita sempet ngobrol lewat messenger. Dia bertanya apa perasaan saya ketika sedang jauh dari keluarga dan mendapati bahwa istri sedang sakit serius. Istri memang saat ini sedang diuji Tuhan dengan sakitnya yg cukup serius yg tidak terbayang sebelumnya dia akan mendapat ini.
Dengan santai tapi sedikit berpikir saya jawab, “ya sedih, ga bisa ngapa2in pastinya. Lo aneh2 aja pertanyaannya”. Terus dia bertanya lagi apa yg akan saya lakukan ketika itu terjadi. Saya jawab, “gw bersimpuh dihadapan Allah, benar benar minta ampuuun, mohon diberikan kesembuhan dsb. Kemudian dia lanjut berkata, Continue Reading →

TwitterLinkedInWhatsAppShare

Pengacara (atau) Selebritis?

Iseng iseng baca baca detik news, salah satu berita seputar selebritis adalah tentang seorang model/pemain sinetron muda yg sedang menanti peradilan karena kasus penggunaan narkoba. Adapun kasus ini punya cabang kasus yang ga kalah panas lho, yaitu kisah percintaan (read: perselingkuhan, krn sang pengacara sudah beristri) yang terjadi antara sang artis dengan pengacaranya. Singkat kata, saya tertarik untuk mengetahui lebih dalam si pengacara itu. Kebetulan ybs punya akun FB, so sy add lah dia.

Ada beberapa hal yang membuat cukup tertegun ketika masuk ke akun ybs. Postingan wall didominasi oleh komentar-komentar yang mengajak sang pengacara agar tidak terjerumus lebih dalam di perselingkuhan. Ada yang bernada kritik membangun ada yg sarkastis membela istri sang pengacara. Bingung juga sih, dalam situasi sekarang, hampir pasti orang orang yg dia confirm jadi friend adalah orang orang yang sama sekali dia ga kenal dan pasti akan “menghadiahi” dia komentar komentar yang bisa bikin kuping merah. Tapi tetap juga diterima. Termasuk si Hamzah ini, hehe. Anyway, yang tadi ga penting banget, krn bukan fokus note ini.

Jauh lebih dalam, lebih terpana (pilhan kata yang bagus ga ya?) saya melihat foto foto beliau. 90% posting foto-fotonya adalah foto-foto yang bersanding oleh para kepala kepolisian, TNI dan juga artis. Ada juga foto-foto beliau di belakang meja yang diatasnya bertumpuk-tumpuk uang kertas sambil berpose dengan memegang senjata api. Entah uang palsu atau bukan, entah uang hasil sitaan kepolisian atau bukan, yang jelas foto-foto itu seperti ingin memamerkan bahwa,”Jangan macem macem sama gw, lo urusan sama gw, lo urusan juga sama si A, si B, dan si senjata api.

Kalau sekiranya motivasi beliau menunjukkan foto itu untuk memberikan kekaguman bagi yang melihatnya, kenapa saya memiliki impresi yang jauh bertolak belakang ya. Kesan yang saya miliki justru mempertanyakan, memang kenapa dengan uang yg bertumpuk2 itu? kenapa dengan senjata apa itu? kenapa berpose dengan para kepala kepala kepolisian, pejabat, dan TNI? Memang senjata api bisa diperoleh dengan izin khusus, tapi seberapah khusus kah si pengacara hingga punya senjata api? kok bebas-bebas aja masuk ke dalam komplek kepolisian/TNI yg penuh dengan senjata otomatis dan dia bebas memegangnya? Bukankah institusi itu punya prosedur khusus? Belum terjawab hingga kini.

Setidaknya hal ini bagi saya justru menggiring ke arah kesan sebuah profesionalitas seorang pengacara jangan jangan memang tidak ditentukan secara dominan oleh kemampuan hukum ybs, tapi seberapa banyak kemampuan mereka menghimpun pulau-pulau kekuatan “kekuasaan” yang diperolah dari para pejabat, dalam memuluskan kasus kasus yang mereka emban. Dan untuk memperoleh kekuasaan itu, sad but true, there’s no such thing like freelunch. Saya ga membicarakan suatu rahasia umum di masyarakat bahwa profesi penegak hukum, termasuk diantaranya pengacara, tidak bisa benar benar bersih.

Yah, walau itu hanya kesan, tapi cukup menakutkan bagi seorang warga negara yang ingin percaya akan kekuatan keadilan di bidang hukum. Akuntan boleh ga ya punya senjata api license??

Silau dengan Buku

Dulu sejak SMA hingga kuliah, paling silau sama Korg, Marshal JCM900, rasanya seneng berlama lama liat (efek beli tapi ga mampu) ngeliat berbagai macam aksesoris. Ngeliat gitar Strat Mustang atau Telecaster rasanya semangaat banget. Sampe akhirnya kesampean punya gitar sendiri. Sayang gitarnya hilang digondol maling on the very first day I moved in to a new room, darn it!.

Sekarang, orientasi rada berubah (tapi tetep kepincut). Seneng banget ngeliat hard cover buku buku manajemen dan strategi. Terakhir kemarin sama sahabat lama jalan jalan ke PS abis ngurus ngurus visa dan exit permit ke sebuah toko buku. Wah, sangat banyak banget yg pengen kebeli…tapi harganya kurang ajar. Dari serinya Thomas Friedman sampe Lawrence Hrebeniak ada. Sayang, kenapa semua paper back atau hard selalu mahal ya?

*dan makhluk seperti saya itupun pergilah menuju dunia maya utk dapetin versi softcopy nya hehehe*

Janis Joplin Heritages

So love Janis and her reincarnation Joss Stone

Piece of My Heart

(Come on…)
Didn’t I make you feel like you were the only man, well yeah,
An’ didn’t I give you nearly everything that a woman possibly can ?
Honey, you know I did!
And each time I tell myself that I, well I think I’ve had enough,
But I’m gonna show you, baby, that a woman can be tough.

I want you to come on, come on, come on, come on and take it,
Take another little piece of my heart now, baby, (break a..)
Break another little bit of my heart now, darling, yeah. (have a..)
Hey! Have another little piece of my heart now, baby, yeah.
You know you got it if it makes you feel good,
Oh yes indeed.

You’re out on the streets looking good, and baby,
Deep down in your heart I guess you know that it ain’t right,
Never never never never never never never hear me when I cry at night.
Baby, I cry all the time!
And each time I tell myself that I, well I can’t stand the pain,
But when you hold me in your arms, I’ll sing it once again.

I’ll say come on, come on, come on, come on, yeah take it!
Take another little piece of my heart now, baby. (break a..)
Break another little bit of my heart now, darling, yeah, (come on…)
Have another little piece of my heart now, baby, yeah.
Well, You know you got it, child, if it makes you feel good

Guitar

I need you to come on, come on, come on, come on and take it,
Take another little piece of my heart now, baby. (break a…)
Break another little bit of my heart, darling, yeah. (have a)
Have another little piece of my heart now, baby,
You know you got it (waaaaahhh)
Take a…Take another little piece of my heart now, baby. (break a…)
Break another little bit of my heart, and darling, yeah yeah (have a)
Have another little piece of my heart now, baby,
You know you got it, child, if it makes you feel good

Welcoming Ramadhan 1432 H

I sincerely wish you the best for the upcoming and most wanted moment for all of us, the Ramadhan. The fasting, better worship and tilawah, more training on physical fitness, the joyful of doing good deeds, and many more we expect to do in the Ramadhan. May we all be purified and successfully go through the whole month with divinity without any flaws.

To my family, please apologize that I can not be with you all this year. But above of all, we have God that unites us within our hearts. I wish you Bunda, the best for the whole month, getting better and always in healthiness. To teteh Runi, you’ll make it this year girl, I know you can. To ceu2 Naila, I hope this would be your first time practicing the fasting. And to the little one Sarah, happy all the time. I miss you like crazy here. I love you all so much. (BIGG HUGGSSS AND KISSESS)

Mohon maaf semua kesalahan kami sekeluarga. Atas nama Ritchi, Ocke, Runi, Naila dan Sarah kami mengucapkan selamat datang Ramadhan!

BPMN Self Training

Hi Guys,

I’ve been quite a while searching for some popular websites or communities where I can learn process model for my study. Learning of something is a lot faster when you have people in the same interests together sharing our stuff. Coping with widely accepted standardized process models such bpmn, it would be best to get skilled by joining such communities in complement of self learning.

So finally I manage to find some useful websites where I can learn better and instantly without having the software downloaded and run in your local laptop. Yes, they are on web and for free (everyone’s need I guess) with some registration to sign up. But they are woth trying. Some of them are hosted by bpmn community for academical and training purpose, and some are run by commercial providers but giving the software for free. There, have fun play around making models and gain more skill in process models with an easy drag and drop feature right in your web browser.

The list obviously does not cover the whole resources though, in fact it’s only a few. But, as world wide web is a place with unlimited resources, I would be more than happy if you would also share for all of us. To me as beginner, these sites give me enough basics, and more importantly facilitate my need for upgrading my process modeling skill. It is neither on alphabetically order nor of importance consideration. I just write them down as per my own intuitive feeling. Oh yeah, another thing, as I use my computing needs with mac, there might be some resources which can only run in Mac OS, but maybe can also run in Windows.

1. BPMN Community. Run by researchers at Business Process Technology Group of Hasso Plattner Institut, University of Potsdam, the BPMN-Community is an open and free platform for the exchange around the Business Process Modeling Notation. Registration is required. There, you will meet another member, and if I we’re lucky, we can contact and make correspondence with expert about some particular modeling issue. You can also create tutorial and some reference for other member. The latest version of BPMN (2.0), is provided.

2. Oryx Project. I am not sure, but it appears that this site is also managed by HPI. So when you select edit model menu in BPMN-Community environment, you will be directed to here. But by knowing the URI, you can immediately go to the editor. Doesn’t matter which way is better. The important stuff about it is, that you can access and modify huge collection of bpmn models stored there. You can, of course, create your own model. Like BPMN Community, you need to have id. Besides BPMN version which spans 1.0 to 2.0, it also give you many collection of other diagrams.

3. Oryx Project for BPMN 2.0. It is the specialized version for bpmn 2.0. The whole environment is the same.

4. Iyopro. This is actually a compony with freeware. It is great for those who want to feel a more “Window” atmosphere, because the software is design to be deployed as if you operate in Window. The artifacts provided are the latest version of BPMN 2.0. Membership is required.

5. yED Graph Editor. It actually a software with download approach. But in the website, they provide option to launch the software. As I’m not really aware of Java, the launch edition is actually operating with java web start technology. So you are not really working in a website look. Beside that, the graph editor is not exclusively for bpmn. And another disadvantage (relative to the other previous tools above) is that it uses bpmn 1.0, not the latest. But, for novice like me, I feel sufficed with yED. The only thing you have to manage is a little bit patience, as java web start will operate at your machine before it launch the editor.

That is all what I got. Feel free to broadcast further, and of course I would also be happy if you would share with me.

Some nice BPMN resources – 1

I somehow just hope the emergence of yet-another conceptual models would slow down and eventually vanish. No kidding, this whole variety of diagramming techniques (or grammars, languages, scripts) sometime gets me into my nerves. Just stick with standardized model and dig knowledge would have been better I suppose.

Anyway, quoting from the resource directly, please read this fine reference (at least for me as newbie). There will be more to feed.

Join this group if you want to discuss with BPMN lovers, haters, users and experts about how to use BPMN for (business) process modeling. Do you have any best practices or experience reports about BPMN? Is something in the BPMN specification unclear? Do you have a BPMN model you want to discuss? Here is the perfect BPMN Community place to post all those questions and ideas!

BPMN Community.

Quiz for megadeth loyalty

Guess what a song the lyric I write down here. Yes, this is my lifetime favorite band’s song titled Victory. My personal opinion is, it does not give real story of what a song normally sings about. Rather, Dave purposely wrote this to combine several of his epic songs ever made in this world.

I have deliberately modified the words so there are no songs title are recognized by their capital letter (every words are with initial small letter, except the beginning) or any signing symbols like “. Now don’t call yourself Megadeth fans if you can not count how many songs are there in this song. Happy counting :)

If helps, I attach the video too.

V I C T O R Y

Now, one day I started telling everyone that
killing Is my business and I was hung like a martyr
For looking down the cross my skull beneath the skin
Prophesied last rites/loved to death my friends
Then I started seeing bad omens in my head
good mourning/black friday will I wake up dead?
If I ain’t superstitious” then this won’t mean a thing
But some crazy shit has happened since the conjuring

Not even close
Not even close
Not even close
To overdose

Had fingers in my eyes, had needles in my veins
A knife right through my heart, I am a victory

Came anarchy to set the world a fire
Pain of hook in mouth, in my darkest hour
Corruption of the world peace sells… but nobody’s buying
Ignorant religion holy wars and the dying, tornado nearly got me by the skin o’ my teeth
this was my life, foreclosure of my dreams
May the past rust in peace in hangar 18
And countdown to extinction
Just be a bad dream
lucretia said…

Not even close
Not even close
Not even close
To overdose

Had fingers in my eyes, had needles in my veins
A knife right through my heart, I am a victory

This is one of a lost megadeth fan in the middle of Prague, Czech Republic 😀

Gifts from Minister of Education short visit

Today, our Minister of National Education, Mr.Muhammad Nuh, came visiting us with his team as part of series of European visits. Initially, the gathering was intended as private session between a number of Dikti scholarship holders with the Ministry of National Education team. But, it turned out to be an open gathering, as more people outside the scholarships grantees were showing interest to join the event.

Limited with time before next flying to Geneve, not much time was given to all audiences to have everyone spoke for their concern and question. But, I this 2 hours discussion was enough to make sure that most issues are addressed. The talk started with Mr.Minister giving the introduction. He gave some brief updates about what the Ministry are doing with regards to national education sector. Continue Reading →

Domestic Workers Tragic Life in Saudi Arabia

TKI: Belum Laku, Dipajang di Ruang Kaca
Windoro Adi | Benny N Joewono | Kamis, 23 Juni 2011 | 08:38 WIB
Link: http://bit.ly/j4MyH9
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

KOMPAS.com – Juni 2009. Malam nan laknat itu datang. Di lantai tiga sebuah apartemen di Kota Hawali, Kuwait, pembantu rumah tangga Imas Tati (22) terpentang, terbaring telanjang di ruang tamu. Kedua tangan dan kakinya diikat pada kaki-kaki kursi. Majikannya, seorang pria berusia 30 yang ia panggil Baba, memandangi tubuh Imas dengan nanar. Tangan Baba menyentuh Imas.

”Ya Allah, Ya Rabbi,” bisik Imas dalam hati. Matanya berkaca-kaca. Tak berapa lama, air matanya tak terbendung lagi, mengairi pelipisnya. Ia terus menderas asma suci Allah dalam hati. Tangan dan kakinya terus meronta, menolak disentuh. Tapi Baba tambah bernafsu. Ia bukan hanya menyentuh, tetapi memukuli Imas.

Mata Imas terkatup rapat menahan rasa sakit, rasa takut, terhina dan marah. Ia meredamnya dengan terus menyebut asma suci Allah. Giginya menggigit bibir.

Tiba-tiba telepon genggam Baba berbunyi. Istrinya, Nyonya ”Z”, seorang dokter bedah, pulang. Baba buru-buru memakai pakaiannya. Imas pun ia lepas. Sambil berpakaian, Baba lalu menjambak rambut Imas dan mendekatkan mulutnya pada telinga Imas. Baba berbisik, ”Kalau kamu melawan, saya akan terus menjadi ancaman buat hidupmu. Seharusnya kamu mau melayani saya dan menerima lebih banyak uang untuk keluargamu." Tangan kiri Baba masih menjambak rambut Imas.

Imas membisu. Babak berikutnya adalah babak sandiwara sepasang suami istri. Setelah melayani keduanya, Imas pergi tidur. Tetapi di kamarnya, ia tak bisa memejamkan mata. Ini adalah yang kesekian kalinya ia nyaris diperkosa. Terakhir, ia hendak diperkosa si Baba dan lima keponakan prianya.

Ceritanya, usai mengantar belanja, Imas diminta tetap di mobil bersama kelima keponakan pria Baba. Ternyata mereka berniat memperkosa Imas. Sambil berjalan, kelimanya membekap Imas. Hampir seluruh pakaian Imas termasuk pakaian dalamnya sudah lepas. Demikian pula pakaian ke lima keponakan Baba.

Karena Imas terus meronta, kelima pria lamban mewujudkan niatnya. Saat kendaraan hendak sampai apartemen Baba, Baba mengingatkan kelima keponakannya agar mengurungkan niatnya. ”Kita cari waktu lain saja yang lebih leluasa,” ucap Baba. Meski kecewa, kelima keponakan menuruti permintaan Baba.

Lari

Imas mengejapkan matanya, mengusir genangan air mata. Ia masih terbaring di tempat tidur. Bayangan tentang Baba yang terus berusaha mencicipi tubuhnya di dapur, di ruang tamu, di ruang makan, bahkan di kamar mandi, membuatnya makin gelisah. Peluang Baba memperkosa Imas banyak. Sebab, Baba sehari-hari di rumah sementara istrinya setiap hari berangkat pagi, pulang malam. Hampir seluruh waktu Nyonya Z, dihabiskan di rumah sakit.

Tapi lama-lama Imas tak ingin lagi menjadi seekor ikan yang cuma bisa menggelepar tanpa suara. Imas ingin lari tapi, ragu bila mengenang kembali cita-citanya bekerja untuk membiayai sekolah adiknya, dan membantu ekonomi orangtuanya di desa.

Ingatan tentang penderitaannya selama menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi kemudian menepis cita-cita Imas. Ia lalu menguatkan tekad untuk kabur.

Pagi pukul 05.00, ia melepas dan menyambung-nyambung kain korden dan selimut. Ia pun mengendap-endap turun dari lantai tiga. Sampai di lantai dua, ia jatuh. Niatnya kabur gagal. Di depan istrinya, Baba pun mencaci maki Imas. ”Dasar budak tidak tahu diuntung!”. Mendengar teriakan itu, Imas tak ingin lagi jadi seekor ikan. Ia berkata, ”Saya tidak akan berbuat seperti ini bila majikan saya baik”.

Imas lalu dibawa ke Rumah Sakit Mubarak. Setelah dua pekan di rumah sakit, ia diberi tahu kakinya mungkin lumpuh dan harus diamputasi. Ia menjawab dengan menggelengkan kepala dan menangis.

”Tulang punggung saya dibagian tengah, hancur dan mendapat 40 jahitan luar dan dalam. Kedua engsel kaki saya pecah. Tulang-tulang yang rusak ini dipasangi pen,” kata Imas saat ditemui di pondokan Migrant Care di kawasan Jakarta Timur, Rabu (22/6/2011) sore.

Ia lalu menunjukkan bekas jahitan di punggung dan kedua pergelangan kakinya. Maret 2010, pen-pen di kedua pergelangan kakinya, dilepas di Rumah Sakit Polri Raden Said Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Indonesia Raya

Sebelum bekerja pada Baba dan Nyonya Z, Imas, gadis Desa Ciparai RT 1/RW 7, Leuwi Mundaling Majalengka, Jawa Barat ini, bekerja pada keluarga polisi, J (30). Rumahnya di Jalan Mubarak al-Kabir. Di tempat ini, J sering menyiksa Imas.

”Saya sering jadi bulan-bulanan kekesalan dia meski saya tidak bersalah dan diam. Saya dipukuli dan ditendangi. Saya sudah seperti bola saja. Dia sering baru berhenti menganiaya setelah saya pingsan. Bahkan kadang, saat dia belum puas menyiksa saya, dia mengguyur saya supaya sadar, lalu memukuli saya lagi,” papar Imas.

Ketika ia melaporkan kasus ini ke KBRI, Imas justru dijebloskan penjara oleh majikannya yang polisi. ”Orang-orang KBRI tidak membela saya ketika mereka melihat saya diseret-seret dan dibawa ke penjara,” tutur Imas. Ia mengaku tidak digaji selama bekerja pada polisi J.

”Waktu saya di KBRI, saya dikejar-kejar agen pembantu. Saya lalu dijual ke keluarga lain dengan harga Rp 15 juta. Begitu seterusnya sampai saya bekerja di rumah Baba,” ungkap Imas.

Ia sempat bekerja dengan tenang di dua keluarga. Ia digaji sebulan 50 Dinar atau sekitar hampir Rp 2 juta. ”Tapi baru empat-lima hari bekerja, agen pembantu menteror majikan saya. Saya pun dilepas dan dijual kembali ke keluarga lainnya,” ujarnya.

Menurut Imas, Warganegara Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab, dilarang memakai bahasa Indonesia. ”Kalau menyanyi Indonesia Raya?”. ”Aduh…,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Korban lain

Sejak Februari 2011, Imas berada di Indonesia. Saat dirawat di Rumah Sakit Polri, ia bertemu dengan seorang pembantu rumah tangga lainnya yang juga dirawat. Namanya Basaeri (25). Tulang punggung Basaeri patah. Beberapa jaringan syarafnya rusak. Ia tidak bisa lagi berkomunikasi. Bicaranya kacau.

Imas bercerita, Basaeri adalah pembantu rumah tangga yang bekerja di Suriah. Saat mengepel, ia jatuh didorong anak majikannya. Bukannya mendapat perawatan, Basaeri justru dianiaya. ”Sekarang dia sudah meninggal. Dia meninggal waktu dioperasi,” tutur Imas.

Nasib serupa juga dialami kawan Imas lainnya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah. Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, tidak kurang dari lima ribu pembantu rumah tangga warganegara Indonesia mendapat kekerasan fisik selama bekerja di Arab Saudi. Dua ribu di antaranya, menjadi korban kekerasan seksual. "Di negeri lain jumlah korban lebih kecil," jelasnya.

Budak nafsu

Pembantu rumah tangga lainnya, Rosnani (48) mengatakan, apa yang dialami Imas, Basaeri, Dewiyanti, dan Muslimah, menjadi hal yang biasa terjadi di Arab Saudi. ”Sejak 1985 saya bekerja di Arab Saudi dan sudah beberapa kali pulang ke kampung halaman. Saya bertemu mereka dimana-mana. Nasibnya serupa. Kalau tidak jadi sasaran nafsu syahwat, ya jadi sasaran nafsu membunuh,” tutur perempuan asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu.

Ia berpendapat, para pembantu rumah tangga warganegara Indonesia hidup seperti budak di Arab Saudi. Dijual oleh para agen pembantu rumah tangga. Ditarik lagi dan ditempatkan di keluarga lain, demi mendapat Rp 15 juta – Rp 20 juta dari setiap transaksi jual beli. ”Kalau belum laku. Di suruh nunggu di kamar kaca kantor agen pembantu, sampai ada orang yang membeli,” ujar Rosnani.

Menurut Imas, dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga, menjadi pengalaman sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi.

"Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Bangun jam 05.00, tidur jam tiga hari berikutnya. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan,” lanjut Rosnani.

Ia mengaku, setelah memukuli, majikannya dengan mudah menempelkan pisau di lehernya sambil mengancam, ”Saya bisa gorok dan potong-potong kamu sesuka hati saya. Tidak ada yang melindungi kamu di sini bukan?”. Karena ancaman seperti itu datang berulangkali, Rosnani pun tidak tahan dan kabur dengan uang sendiri.

Rosnani mengingatkan, tidak mudah kembali ke Tanah Air setelah para perempuan pembantu rumah tangga terjerat jaringan agen pembantu rumah tangga. ”Bisa lepas dari agen dan punya uang untuk pulang saja sudah mujur,” tuturnya.

Meski mengaku nasibnya lebih beruntung, tetapi Rosnani tak mau lagi ke Arab Saudi menjadi pembantu rumah tangga. ”Lebih senang hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang,” katanya menutup percakapan. (WINDORO ADI)

Gebetszeiten Juli 2011.pdf